Powered by Blogger.

Kemudahan dalam Ibadah Puasa

Allah Menginginkan Kemudahan

Allah Ta’ala berfirman,
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al Baqarah: 185).
Sebelumnya Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ
Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al Baqarah: 185).
Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sesungguhnya diberikan keringanan bagi kalian untuk tidak berpuasa ketika sakit dan saat bersafar. Namun puasa ini wajib bagi yang mukim dan sehat. Itu semua adalah kemudahan dan rahmat Allah bagi kalian.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 59).
Beliau rahimahullah juga berkata di kitab yang sama, “Sesungguhnya diberikan keringanan bagi kalian untuk tidak berpuasa saat sakit dan safar, juga ketika mendapati udzur semisal itu. Karena Allah menginginkan bagi kalian kemudahan. Namun puasa tersebut tetap diperintahkan diqadha’ (diganti) di hari lainnya untuk menyempurnakan puasa Ramadhan kalian.” (Idem, 2: 62).
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di berkata, “Allah memberikan kemudahan supaya kalian dapat mudah menggapai ridha Allah. Kemudahan yang diberikan begitu besar. Itulah ajaran yang ada dalam syariat Islam.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 86-87).

Pilihan Puasa Ketika Safar

Adapun puasa ketika safar adalah pilihan, bukan suatu keharusan. Karena para sahabat radhiyallahu ‘anhum pernah keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan. Di antara mereka ada yang berpuasa dan yang lainnya tidak berpuasa. Namun dua pihak yang berbeda tidak saling mencela satu dan lainnya. Seandainya berpuasa tidak dibolehkan saat puasa, tentu akan diingkari. Bahkan keadaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah berpuasa. (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 60).

Manakah yang Paling Afdhol Berpuasa ataukah Tidak Saat Safar?

Rincian paling baik adalah berikut ini.
Kondisi pertama adalah jika berat untuk berpuasa atau sulit melakukan hal-hal yang baik ketika itu, maka lebih utama untuk tidak berpuasa. Dalil dari hal ini dapat kita lihat dalam hadits Jabir bin ‘Abdillah. Jabir mengatakan,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فِى سَفَرٍ ، فَرَأَى زِحَامًا ، وَرَجُلاً قَدْ ظُلِّلَ عَلَيْهِ ، فَقَالَ « مَا هَذَا » . فَقَالُوا صَائِمٌ . فَقَالَ « لَيْسَ مِنَ الْبِرِّ الصَّوْمُ فِى السَّفَرِ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersafar melihat orang yang berdesak-desakan. Lalu ada seseorang yang diberi naungan. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Siapa ini?” Orang-orang pun mengatakan, “Ini adalah orang yang sedang berpuasa.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukanlah suatu yang baik jika seseorang berpuasa ketika dia bersafar” (HR. Bukhari no. 1946 dan Muslim no. 1115). Di sini dikatakan tidak baik berpuasa ketika safar karena ketika itu adalah kondisi yang menyulitkan.
Kondisi kedua adalah jika tidak memberatkan untuk berpuasa dan tidak menyulitkan untuk melakukan berbagai hal kebaikan, maka pada saat ini lebih utama untuk berpuasa. Hal ini sebagaimana dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana beliau masih tetap berpuasa ketika safar.
Dari Abu Darda’, beliau berkata,
خَرَجْنَا مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فِى بَعْضِ أَسْفَارِهِ فِى يَوْمٍ حَارٍّ حَتَّى يَضَعَ الرَّجُلُ يَدَهُ عَلَى رَأْسِهِ مِنْ شِدَّةِ الْحَرِّ ، وَمَا فِينَا صَائِمٌ إِلاَّ مَا كَانَ مِنَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَابْنِ رَوَاحَةَ
Kami pernah keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di beberapa safarnya pada hari yang cukup terik. Sehingga ketika itu orang-orang meletakkan tangannya di kepalanya karena cuaca yang begitu panas. Di antara kami tidak ada yang berpuasa. Hanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja dan Ibnu Rowahah yang berpuasa ketika itu.” (HR. Bukhari no. 1945 dan Muslim no. 1122).
Apabila tidak terlalu menyulitkan ketika safar, maka puasa itu lebih baik karena lebih cepat terlepasnya kewajiban. Begitu pula hal ini lebih mudah dilakukan karena berpuasa dengan orang banyak itu lebih menyenangkan daripada mengqodho’ puasa sendiri sedangkan orang-orang tidak berpuasa.
Kondisi ketiga adalah jika berpuasa akan mendapati kesulitan yang berat bahkan dapat mengantarkan pada kematian, maka pada saat ini wajib tidak berpuasa dan diharamkan untuk berpuasa. Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَرَجَ عَامَ الْفَتْحِ إِلَى مَكَّةَ فِى رَمَضَانَ فَصَامَ حَتَّى بَلَغَ كُرَاعَ الْغَمِيمِ فَصَامَ النَّاسُ ثُمَّ دَعَا بِقَدَحٍ مِنْ مَاءٍ فَرَفَعَهُ حَتَّى نَظَرَ النَّاسُ إِلَيْهِ ثُمَّ شَرِبَ فَقِيلَ لَهُ بَعْدَ ذَلِكَ إِنَّ بَعْضَ النَّاسِ قَدْ صَامَ فَقَالَ « أُولَئِكَ الْعُصَاةُ أُولَئِكَ الْعُصَاةُ
Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pada tahun Fathul Makkah (8 H) menuju Makkah di bulan Ramadhan. Beliau ketika itu berpuasa. Kemudian ketika sampai di Kuroo’ Al Ghomim (suatu lembah antara Mekkah dan Madinah), orang-0rang ketika itu masih berpuasa. Kemudian beliau meminta diambilkan segelas air. Lalu beliau mengangkatnya dan orang-orang pun memperhatikan beliau. Lantas beliau pun meminum air tersebut. Setelah beliau melakukan hal tadi, ada yang mengatakan, “Sesungguhnya sebagian orang ada yang tetap berpuasa.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan, “Mereka itu adalah orang yang durhaka. Mereka itu adalah orang yang durhaka”.” (HR. Muslim no. 1114). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela keras karena berpuasa dalam kondisi sangat-sangat sulit seperti ini adalah sesuatu yang tercela.[1]

Qadha’ Puasa Tidaklah Mesti Berturut-Turut

Berdasarkan ayat yang kita kaji ini, menurut jumhur (baca: mayoritas) ulama, qadha’ puasa tidaklah mesti berturut-turut. Karena dalam ayat hanya disebutkan, pokoknya diganti di hari yang lain, tanpa mesti berturut-turut. (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 61).
Semoga bermanfaat.

Tidak Perlu Mencari Tanda Tanda Malam Lailatul Qadar

Sebenarnya kita tidak perlu mencari tanda malam lailatul qadar. Kita cukup banyak ibadah saja di sepuluh malam hari terakhir bulan Ramadhan, maka kita akan mendapatkan keutamaan malam yang ada.
Tanda malam lailatul qadar nampak pun setelah malam tersebut berlalu.
Ibnu Hajar Al Asqolani berkata,
وَقَدْ وَرَدَ لِلَيْلَةِ الْقَدْرِ عَلَامَاتٌ أَكْثَرُهَا لَا تَظْهَرُ إِلَّا بَعْدَ أَنْ تَمْضِي
“Ada beberapa dalil yang membicarakan tanda-tanda lailatul qadar, namun itu semua tidaklah nampak kecuali setelah malam tersebut berlalu.” (Fathul Bari, 4: 260)
Di antara yang menjadi dalil perkataan beliau di atas adalah hadits dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata,
هِىَ اللَّيْلَةُ الَّتِى أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِقِيَامِهَا هِىَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِى صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لاَ شُعَاعَ لَهَا.
Malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke dua puluh tujuh (dari bulan Ramadlan). Dan tanda-tandanya ialah pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa memancarkan sinar ke segala penjuru.” (HR. Muslim no. 762). Lihatlah, tanda ini baru muncul di pagi hari, setelah lewat malam.
Dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْلَةُ القَدَرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلَقَةٌ لَا حَارَةً وَلَا بَارِدَةً تُصْبِحُ الشَمْسُ صَبِيْحَتُهَا ضَعِيْفَةٌ حَمْرَاء
Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan nampak kemerah-merahan.” (HR. Ath Thoyalisi dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, lihat Jaami’ul Ahadits 18: 361. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahihul Jaami’ no. 5475). Tanda ini pun sama dengan sebelumnya barulah muncul setelah lailatul qadar berlalu.
Jika demikian, maka tidak perlu mencari-cari tanda lailatul qadar karena kebanyakan tanda yang ada muncul setelah malam itu terjadi. Yang mesti dilakukan adalah memperbanyak ibadah di sepuluh hari terakhir Ramadhan, niscaya akan mendapati malam penuh kemuliaan tersebut. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2: 149-150)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak mencari-cari tanda, namun beliau memperbanyak ibadah saja di akhir-akhir Ramadhan.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: – كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ اَلْعَشْرُ -أَيْ: اَلْعَشْرُ اَلْأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ- شَدَّ مِئْزَرَهُ, وَأَحْيَا لَيْلَهُ, وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika memasuki 10 Ramadhan terakhir, beliau bersungguh-sungguh dalam ibadah (dengan meninggalkan istri-istrinya), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terlihat lebih rajin di akhir Ramadhan lebih dari hari-hari lainnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim no. 1175)
Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Aku sangat senang jika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan untuk bertahajud di malam hari dan giat ibadah pada malam-malam tersebut.” Sufyan pun mengajak keluarga dan anak-anaknya untuk melaksanakan shalat jika mereka mampu. (Latho-if Al Ma’arif, hal. 331)
Lalu jangan lupa perbanyak doa ampunan pada Allah di akhir-akhir Ramadhan. Dari Aisyah, beliau radhiyallahu ‘anha berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ « قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى
“Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang mesti aku ucapkan saat itu?” Beliau menjawab, ”Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).” (HR. Tirmidzi no. 3513, Ibnu Majah no. 3850, dan Ahmad 6: 171, shahih)
Semoga bermanfaat. Semoga kita semakin semangat di akhir-akhir Ramadhan.

Bagaimana Membalas Kebiadaban Atas Israel ?

Puasa tahun lalu warga Palestina mendapat cobaan dimana Muhammad Mursi dikudeta oleh Jenderal As-Sisi. Sebagaimana saya dengar dari ceramah Syekh Amjad Khalifah atau yang sering disapa dengan Syekh Abu Hamzah di Masjid al-Ghifary, berubahnya situasi politik ini membuat kerugian besar di pihak Palestina. Pertama, warga Palestina tidak bisa lagi melintasi pintu perbatasan Rafah yang sebelumnya terbuka lebar. Kedua, seperti saya kutip dari Reuters, sekitar 80 persen terowongan yang digunakan untuk menyelundupkan barang dan senjata dari Mesir menuju Jalur Gaza tidak lagi berfungsi karena ditutup oleh militer Mesir pasca dikudetanya Muhammad Mursi.

Pada puasa tahun ini, warga Palestina mendapat cobaan kembali, yakni serbuan rudal-rudal Israel ke Gaza pada 9 Juli 2014. Imbas dari serangan Israel ini jagat twitter yang sebelumnya ramai isu perdebatan Pilpres, mendadak berubah menjadi isu “Pray For Gaza” dan “Save Palestine”. Menurut versi Zionis Israel, mereka menyerang target-target yang diduga menjadi persembunyian dan aktivitas para pejuang Hamas. Kalau dicermati, serangan Israel masih ada kaitannya tewasnya 3 remaja mahasiswa seminari Yahudi itu  di dekat parit di dekat kota Halhul, di utara Hebron. Seperti biasa Israel menuduh Hamas, akan tetapi berulangkali membantahnya.[2]

Rudal-rudal Zionis Israel sampai tulisan ini diterbitkan telah merengut nyawa 90 warga Gaza dan lebih dari 500 orang lainnya luka-luka.[3] Selain merengut nyawa tak berdosa itu, Rudalnya Zionis Israel menghancurkan gedung Graha Tahfidz Daarul Quran di Gaza Palestina. Tokoh agama sekaligus pendakwah, Yusuf Mansyur menyatakan kesedihannya karena hancurnya Graha Tahfidz ini. Pasalnya Graha Tahfidz itu dibangun dari sumbangan umat Islam di Indonesia. "Yaa Allah... Graha Tahfidz Daarul Quran Gaza Palestina yang baru aja diresmikan, bantuan muslim Indonesia, dirudal Israel," kata Yusuf Mansyur di akun Facebook pribadinya. [4]

Sebagai bentuk kepedulian kita kepada saudara-saudara seiman yang dijajah Zionis. Kita perlu melakukan semacam aksi untuk membalas kebiadaban Zionis Israel. Mulai dari berdoa, berdemonstrasi, menciptakan lagu “we will not go down” karya penyanyi Michael Heart, memboikot produk-produk Israel hingga mretas situs-situs milik pemerintahan dan perusahaan Israel. Berdoa adalah perbuatan minimum yang harus dilakukan seorang muslim apabila dia tidak mampu membantu dalam bentuk jihad fisik maupun materi.[5] Kemudian berdemonstrasi adalah bentuk aktivitas politik yang mampu menghasilkan dua hal: pertama, menciptakan opini publik bahwa kebiadaban Israel harus segera dihentikan. Kedua, melalui aktivitas ini, umat Islam bisa menggalang dana untuk disalurkan kepada Palestina. 

Baru baru ini, Prabowo menyumbangkan dana Rp1 miliar rupiah untuk warga Palestina.  "Sebagai bentuk awal dan komitmen, saya menyumbangkan uang pribadi Rp1 miliar untuk membantu warga Palestina," kata Prabowo. Prabowo ikut dalam aksi damai ini tak ada kaitannya dengan hiruk pikuk politik. Kata dia, kedatanganya sebagai bukti keprihatinan terhadap warga Palestina yang diserang membabi buta, apalagi di bulan Ramadhan. Tak hanya Prabowo, Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie juga merogoh kocek Rp 1 miliar untuk membantu rakyat Palestina. Dana ini merupakan dana pribadi. "Pak ARB sebenarnya mau menyumbang Rp5 miliar. Tapi karena sungkan sama saya, beliau jadi baru nyumbang Rp1 miliar," kata Prabowo tertawa dan disambut takbir ribuan orang yang ikut dalam aksi damai. [6]

Biasanya aktivitas demonstrasi di Indonesia dilakukan oleh kawan-kawan Jamaah Tarbiyah (PKS), FPI dan Hizbut Tahrir. Justru kita belum melihat kalangan Liberal melakukan aksi-aksi kepedulian untuk warga Palestina. Begitu juga para aktivis penggiat HAM, mereka ini ketika masa kampanye Pilpres sangat getol berteriak ke sana kemari tentang pelanggaran HAM salah satu capres, tapi anehnya suara mereka tidak terdengar sama sekali sewaktu Gaza dihujani rudal Zionis Israel.

Langkah konkrit lainnya adalah menciptakan sebuah musik yang menunjukkan rasa simpati dan mampu membakar semangat warga Palestina supaya tidak menyerah sampai kapan pun. Seperti yang diberitakan situs Tempo, Lagu We Will Not Go Down (Song for Gaza) langsung diunggah ke situs YouTube pada awal Januari 2009. Dalam dua pekan saja, lagu ini sudah di¬klik oleh 700 ribuan pengunjung. Jumlah itu kian bertambah hingga hari ini. Selain sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa, lagu ini disediakan untuk “free download” di Internet. Namun sebagian besar orang yang mengunduhnya ¬dengan sukarela malah menyumbang ke United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East. [7]

Dari menciptakan sebuah lagu dahsyat untuk Warga Palestina, kita bisa melakukan gerakan memboikot produk-produk Israel. Sedikit saya cerita tentang sebuah aksi/gerakan yang muncul di facebook yakni “I Check the Label”. Gerakan ini digagas oleh komunitas Muslim di Inggris sejak 4 tahun lalu dengan maksud memberi edukasi kepada umat Islam akan produk-produk Israel yang tidak boleh lagi kita beli karena 2 hal: hasil keuntungan penjualan kurma ini dipakai Israel untuk menjajah dan mendirikan pemukiman illegal di Palestina. Kemudian dari sisi kesehatan dan kehalalannya yang masih diragukan. Misalnya produk kurma kemasan Israel yang dijual di Tepi Barat (West Bank) dan lembah Yordan (Jordan valley).[8] Kampanye “saya mengecek label” sebelum membeli produk kemasan asal Israel ini juga marak di Gaza pada bulan Juni.[9] 

Terakhir sebelum menutup tulisan ini, bagi yang memiliki keahlian di bidang IT bisa meretas situs-situs milik pemerintah dan perusahaan yang berafiliasi ke Israel. Pasca serbuan rudal-rudal Israel ke Gaza, muncul kampanye #OpSaveGaza yang digalakkan oleh hacker “anti Israel” di internet. Kampanye ini awalnya muncul di twitter tapi juga direalisasikan dengan menyerang situs-situs pemerintah Israel. Terkait serangan para hacker, “Israel siap”, kata Dina Beer, CEO Asosiasi Internet di Israel (ISOC). Menurut Dina, saat ini negaranya mengalami serangan siber yang massif. Bahkan dalam pantauannya serangan meningkat tajam hingga 900%. “Jika biasanya kita mendapat 100 ribu serangan setiap hari, kalau sekarang mendapat 1 juta serangan dari seluruh dunia Arab dan Negara Muslim” ujarnya. [10]

Meskipun Zionis Israel bisa mematahkan dengan mudah serangan para hacker di seluruh dunia, jangan pesimis dulu!. Apapun aksi atau sumbangsih anda untuk membalas kebiadaban Israel akan dicatat oleh Allah swt. Mari kita desak pemerintah RI dan dunia Arab agar mengirimkan tentaranya untuk mengusir Zionis Israel. Wallahu ’alam bishowwab.

Catatan kaki:
1) Lihat Fadh Ahmad, Kondisi Palestina Pasca kudeta Militer di Mesir, (Scribd.com, Juli 2013)
 2) “3 missing Israeli teens found dead near Hebron” cbcnews tgl 30 Juni 2014
 3) Status fanpage ‘Palestine Solidarity Campaign UK’ tgl 11 Juli 2014 pk 05.20 wib
 4) “Yusuf Mansyur Sedih Graha Tahfidz di Gaza Hancur Dirudal Israel” Republika.co.id tgl 9 Juli 2014
 5)Agar doa kita diijabah, ketika berdoa harus mengikuti tuntunan Nabi, harus ikhlas dan berbaik sangka kepada Allah. Kemudian harus bertawakkal kepada Allah memohon yang terbaik untuknya dari doanya itu. Baca: M. Khalilurrahman Al Mahfani, Keutamaan Doa & Dzikir Untuk Hidup Bahagia Sejahtera, (Jakarta: Wahyu media, 2008), hal 6
6) “Prabowo dan ARB Sumbang Rp 2 miliar untuk Rakyat Palestina” vivanews tgl 11 Juli 2014
 7)“Membela Gaza Dengan Nada” tempo.co tgl 27 Januari 2009
 8) http://foa.org.uk/campaigns/check-the-label
 9) Sumber: album foto #icheckthelabel In Gaza di fanpage ‘friends of al-Aqsa’ tgl 30 Juni 2014
 10) David Shamah, “Hackers threaten ‘Israhell’ cyber-attack over Gaza” times of Israel.com tgl 9 Juli 2014

Keutamaan Pada Bulan Ramadhan

Ramadhan Bulan Turunnya Alquran

Allah Swt telah menurunkan kitab-Nya yang mulia sebagai petunjuk kepada umat manusia, sebagai obat penawar kaum mukminin, petunjuk kepada yang lebih lurus, penyuluh ke jalan yang benar, dan pada malam Lailatul Qadar di bulan Ramadhan yang berkebajikan, Allah pemilik Arsy Yang Agung berfirman:

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al-Baqarah 185)

Sesungguhnya uraian bahwa pada bulan Ramadhan itu telah diturunkan Alquran, dan mengaitkanya dengan kalimat sesudahnya dengan mendahulukanya dengan huruf “fa” yang berdaya guna sebagai alasan dan sebab: “maka barang siapa yang hadir di antara kamu di bulan itu, hendaklah dia berpuasa”, memberikan alasan dengan isyarat, bahwa sebab dipilihanya Ramadhan menjadi bulan puasa lantaran diturunkanya Alquran pada bulan itu.

Setan Diborgol, Pintu Neraka Ditutup dan Pintu Surga Dibuka

Pada bulan yang berkeberkahan ini kejahatan berkurang di muka bumi, karena jin ifrit diborgol, tidak diberi  kebebasan merusak ummat manusia seperti pada bulan-bulan lainya, karena kaum muslimin sedang sibuk menunaikan puasa, yang merupakan pengekang syahwat, membaca Alquran dan berbagai ibadah lainya, sebagai pendidik dan pembersih jiwa, firman Allah Taala:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atasa kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu, supaya kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah 183)

Karena itu pintu-pintu neraka ditutup dan pintu-pintu surga dibuka, karena amal saleh pada waktu itu timbul dan kata-kata baik meluap-luap.

Sabda Rasulullah Saw: “Apabila tiba bulan Ramadhan, maka dibukalah pintu-pintu surga dan ditutuplah pintu-pintu api neraka dan diborgolah setan-setan” dikeluarkan oleh Asy-Syaikhan. Dalam riwayat Muslim dikatakan: “Pintu-pintu rahmat dibuka, pintu-pintu jahanam ditutup dan setan-setan dirantai’.

Kejadian itu dimulai sejak malam pertama bulan yang berkeberkahan itu, berdasarkan sabda Rasulullah Saw : “Apabila tiba malam pertama bulan Ramadhan, para setan-setan dan jin ifrit diborgol, pintu-pintu neraka ditutup dan tidak ada lagi yang dibuka, pintu-pintu surga dibuka dan tidak ada yang ditutup, lalu ada yang berseru: “Hai pecinta kebajikan, sambutlah! Hai, pecinta kejahatan, kurangilah!. dan Allah berkenan tiap-tiap malam membebasakan orang dari api neraka” (Kitab Sahih ut-Targhibi wa Tarhibi 1/417)

Terdapat Malam Lailatul Qadar

Allah Swt memilih bulan-bulan Ramadhan, karena dia menurunkan Alquran pada bulan itu, dan bisa juga digunakan kias dengan berbagai cara, antara lain:

a. Sesungguhnya hari yang paling mulia menurut Allah, ialah pada bulan mana Alquran diturunkan. Maka layaklah pada bulan itu dilakukan amal ibadah tambahan, terutama dalam upaya mendapatkan Lailatul Qadar dan mengisinya dengan amalan tersebut.   

b. Sesungguhnya kaum muslimin itu apabila memperoleh curahan kenikmatan, wajiblah kepada mereka berbuat kebaikan tambahan sebagai rasa syukur mereka kepada Allah. Makna tersebut tersimpul dan firmannya sesudah kaum itu usai menikmati curahan karunia-Nya pada bulan puasa:

“...dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah 185)

Begitu pula firman-Nya kepada kaum muslimin sesudah mereka selesai menunaikan nikmat ibadah haji: “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu.” (QS. Al-Baqarah 200).